Home / Subbagian Umum / Seminar Akademik LPMP D.I Yogyakarta

Seminar Akademik LPMP D.I Yogyakarta

 

Menjelang implementasi kurikulum 2013, pro dan kontra merebak sebagai pembicaraan dalam masyarakat  dan menghiasi berbagai media. Sebagai institusi di bawah Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan, Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan berupaya menempatkan diri sebagai perantara keriuhan yang diakibatkan kebijakan tersebut. Salah satu upaya yang dilakukan adalah dengan mengadakan pertemuan ilmiah internal dalam lembaga sendiri. Upaya yang kemudian diberi nama seminar akademik tersebut, direncanakan akan berlangsung setiap bulan dan dihadiri pejabat struktural,  widyaiswara dan perwakilan staf LPMP.

Pada hari Selasa, 26 Februari 2013, seminar akademik pertama diawali dengan pemakalah Marike Nawang Palupi,PgDipCPA dan Drs. Eri Budi Susanto. Keduanya adalah widyaiswara LPMP D.I Yogyakarta. Acara dibuka oleh Kepala LPMP D.I Yogyakarta dan berperan sebagai moderator adalah Dr. Agus Dwi Doso Warso yang merupakan koordinator widyaiswara LPMP D.I Yogyakarta. Hadir sebagai peserta dalam seminar akademik pertama ini adalah para pejabat struktural LPMP D.I Yogyakarta dan para widyaswara.

 

Sebagai pemakalah pertama, Marike Nawang Palupi memaparkan tinjauan ideologis kurikulum Bahasa Inggris dalam Kurikulum 2013 dan Common European Framework Reference for Languages (CEFR). Dalam pemaparan tersebut dijelaskan bahwa ideologi kultural pluralisme dalam Kurikulum 2013 seharusnya dapat menyiapkan siswa memiliki kompetensi hidup dalam masyarakat multikultur dan multibahasa. Namun demikian kompetensi tersebut hendaknya tidak hanya dimaknai dalam konteks lokal-nasional tetapi juga secara global. Ini berarti siswa sekolah juga diberi kesempatan untuk memiliki toleransi dan mobilitas tinggi dalam konteks lokal nasional saja tetapi juga global- sebagai warga negara dunia. Oleh karena itu pandangan bahwa pengajaran Bahasa Inggris dapat menghambat pengajaran bahasa ibu bahkan bahasa nasional (Bahasa  Indonesia) seharusnya dapat diminimalisir dengan meninjau kembali keterkaitan kurikulum pengajaran Bahasa Inggris dan Bahasa lain yang wajib dipelajari di sekolah. CEFR dapat memberikan gambaran alternatif skenario-skenario kurikulum bahasa asing dalam konteks cultural plurarisme.

 

Selanjutnya Eri Budi Susanto-sebagai pemakalah kedua memberikan paparan mengenai Strategi Alternatif Implementasi Kurikulum 2013. Dalam paparannya, LPMP memiliki peran siginifikan sebagai pendamping sekolah dalam implementasi kurikulum 2013. Pendampingan implementasi kurikulum seharusnya juga disesuaikan dengan visi dan misi dari LPMP. (Marike)

 

Artikel Lain

Strategi Mengajar untuk Meningkatkan HOTS

Posting ini merupakan kelanjutan dari posting terdahulu terkait HOTS. Perlu disadari bahwa HOTS bukan sekedar …

Mendikbud Imbau Guru Terus Kembangkan Model Pembelajaran HOTS

Yogyakarta, Kemendikbud —- Memasuki era milenium, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), Muhadjir Effendy, mengimbau para …